Langsung ke konten utama

Postingan

Hijrahku Hanya Untuk-Nya

Malang sakijok Mato, mujua sapanjang hari Begitu petuah orang orang tua zaman dahulu. Pengajarannya sangat baik, agar anak anaknya lebih banyak bersyukur. Sebab, kesulitan (malang) hanya datang sekejap mata, hanya sebentar dan terkadang juga tiba-tiba. Sedangkan  kesenangan (untung) sepanjang hari Tuhan berikan. Aku memahami petuah itu demikian. Barangkali orang lain memaknainya dengan cara yang berbeda. Sebagaimana petuah itu, demikian pula kehidupanku sekarang. Dengan adanya kesulitan yang sedikit, tak patutlah bagiku mengeluh dan mencela takdirNya. Sebab Nikmat yang Dia berikan jauh lebih banyak. Di  bulan September aku dan suami bersepakat si Uni, anak kedua kami berhenti belajar di sekolah IT. Kami memilihkan tempat belajar baru untuk Uni. Dia pun menyukainya. Belajar di sekolah non formal Sunnah, di bawah bimbingan Ustadz Ustadzah tempat kami mengambil ilmu juga. Si Uda juga ikut private beberapa kali sepekan di tempat yang sama. Kami berbagi tuga...

Guruku Semoga Allah Merahmatimu

Kemarin, tanpa sengaja saya berjumpa dengan salah satu guru saya. Beberapa tahun lalu saya pernah belajar Tahsin dengan beliau. Bagi saya pelajaran ini sangat berkesan. Serasa menemukan oase di padang pasir. Saya yang memang kesana kemari ingin belajar, namun tak kunjung dapat. Entah gurunya, waktunya, kesempatannya. Sekarang dapat.  Tak saya sia-sia kan kesempatan itu. Ikut beliau kurang lebih dua tahun. Sekali sepekan belajar bersama ibu ibu pensiunan terasa penuh semangat. Usia mereka memang sudah waktunya istirahat. Tetapi ketekunan menimba ilmu sungguh luar biasa.  Bersama beliau saya belajar cara praktis baca Al Qur'an sesuai dengan kaidah. Metodek khas untuk ibu ibu pensiunan. Targetnya, bisa membaca AlQur'an dengan benar. Seperti Rasulullah membacanya. Tanpa harus bingung dengan teori ilmu tajwid. Karena sudah lanjut usia. Sesuai sekali  dengan saya. Saya langsung sakit kepala jika sudah berhadapan dengan teori panjang lebar ilmu tajwid.  Di setia...

Menyapih Si Bungsu

Hampir berlalu satu bulan sejak saat hari itu saya mulai menyapih Si Bungsu, Ibrahim. Namanya sangat indah di telinga dan hati saya, sebab ada kenangan indah pula yang terpatri di sana. Di tulisan lain insyaallah saya cerita.  Si Bungsu kami ini cukup unik. Dia bayi yang sangat manis perilakunya, romantis ala ala bayi, penyayang, senang berbagi, dan tidak bisa melihat kezhaliman. Meski demikian, hingga sekarang ia masih belum bisa bicara seperti anak anak seusianya. Baru bisa mengatakan Umi, Ama dengan fasih. Untuk ayah dan kakak kakaknya ia punya panggilan sendiri.  Fathan dipanggil "Da! Ata!" Hafizhah dipanggil "Ame!" Humaira dipanggil "Tata" Ayahnya dipanggil "Me"  πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ Ini menunjukkan saya dan neneknya orang spesialπŸ˜πŸ€—πŸ’• Tentang menyapih, ini langkah-langkah yang kami lakukan. 🌈 πŸ’• Sounding Tiga bulan sebelum hari menyapih tiba saya mulai sounding ke Ibrahim terutama saat sedang mengASIhi.  "Masyaallah.. Tiga bulan lagi I...

Self Healing

Beberapa hari ini saya merasa tidak sedang baik- baik saja. Dengan cepat saya dapat mendeteksi keadaan ini dan segera dapat mengenali pemicu over thinking yang masuk. Alhamdulillah sudah dapat bekal dari kelas SOT. Saya lakukan self talk positif, dan berjalan kaki sejauh 2,8 km sendirian. Menikmati hembusan angin, pemandangan yang menyegarkan mata, aliran air di bawah jembatan, memungut daun ketapang yang sudah kering, masyaallah hatipun menjadi tenang. Kembali teringat kenangan indah di masa kecil, berjalan penuh gembira berangkat ke sekolah bersama kakak-kakak, bersama teman-teman, seiring waktu, saya berjalan sendirian menikmati alam pedesaan yang permai. Masyaallah.  Sayangnya rasa tenang yang hadir tidak berlangsung lama saat pemicu lainnya muncul. Sebab  nyatanya saya belum benar benar move on.  Hingga tiga hari berlalu baru saya benar benar plong. Berikut beberapa tips yang ingin saya bagikan, semoga bermanfaat ya, Bun.  Pertama, ambil jeda/me time...

Di Persimpangan Hati Ryan

*Fiksi Disclaimer: Tulisan ini saya buat untuk kepentingan setoran tugas di kelas menulis SELIA. Dengan satu paragraf kunci untuk kemudian dikembangkan sendiri. Hati saya tergelitik dengan kasus tipu-tipu menjelang pernikahan. Maka jadilah cerita ini. Tulisan ini murni fiksi, ya... Lift kantor mati. Aku berlari penuh semangat menuju tangga darurat. Lantai 20 tidak akan terasa sulit bagi hati yang tengah berbunga-bunga ini. Aku tidak sabar ingin memperlihatkan contoh undang ini ke Ryan. Dia pasti akan sangat menyukainya.  Ryan, lelaki 29 tahun itu telah bangkit dari pilunya luka. Dia telah meminangku satu minggu yang lalu dihadapan kedua orangtuaku. Menurutnya, aku adalah seorang yang sangat berjasa dalam hidupnya. Seorang yang akan ia jaga selamanya. Seperti aku menjaganya selama ini, walaupun hanya sebatas teman.  Aku teringat bagaimana kejadian setahun yang silam di salah satu toilet pria di kantor ini. Saat itu, aku salah masuk toilet karena terlalu terburu-buru...

Dua Rembulan dalam Belanga (3-Keberanian)

*Fiksi "Bapak... " Fira datang mengulurkan tangannya kepada Pak Rustam. Ia terkesiap, menarik kerah baju untuk menyeka air mata. Segera menyambut tangan Fira. Mendudukkannya di pangkuan.  Dyah beringsut menjauh dari Bapaknya. Bu Ani mengekor di belakang Fira. Ia tersenyum penuh makna kepada Dyah. Apa yang perempuan itu mau? Dyah  mengetuk jantungnya yang mulai berdebar cepat.  "Dyah, nanti kita berangkat dengan mobil tante Sonya. Kamu siap-siap saja, setelah Maghrib dia datang.  Dyah terperangah. Apa ini? Pikirnya. Bahkan ia belum menyetujui permintaan Bapak tadi. Dyah semakin yakin, ini benar ide gila Bu Ani. Apakah perempuan itu ingin membuat dirinya mati perlahan? Bagaimana bisa ia memutuskan sepihak? Bagi Dyah, perbuatan Kedua orang di hadapannya kini akan membuatnya menjadi wanita malam. Wanita bejat yang tidak punya harga diri. Apapun alasannya.  Dyah tidak mampu menolak setiap kata yang perempuan itu perintahkan. Seperti kutu loncat di dalam kotak korek a...

Dua Rembulan dalam Belanga (2-Neraca Timpang)

*Fiksi "Kenapa harus Dyah?" Tanya Pak Rustam membuang muka.  "Dyah kan lebih besar, lebih kuat fisiknya. Kalau Tiara gampang masuk angin. Dia juga masih sekolah, kasihan nanti kalau kurang tidur." Bu Ani berusaha beralibi. Sampai kapan pun dia tidak akan merelakan Tiara kerja malam. Mencari uang tambahan untuk keluarga mereka itu tugas Dyah. Hanya dengan memuji anak sambungnya itu pria di hadapannya akan luluh. Apalagi ini sudah tahun keempat sejak pernikahannya dengan lelaki itu. Umur Dyah sudah 16 tahun. Sudah cukup untuk di bawa ke tempat dia dulu pernah bekerja. Pekerjaannya juga sangat mudah. Hanya menemani pria-pria kesepian minum,  main kartu dan memberi pujian kala mereka bernyanyi walaupun suaranya sumbang.  "Kasihan dia, pagi juga kerja di restoran." Lelaki itu mulai menerawang." "Coba Abang pikir, kalau ada Dyah disana. Dia bisa jadi mata-mata kita waktu 'main' sama teman-teman kamu. Kita bisa pasang umpan besar." Bu Ani m...