Suatu Malam Bersama Cu Wit
Beliau adalah tantenya suami saya. Adik perempuan mendiang ayah mertua yang paling kecil. Makanya ada embel-embel Uncu di depan nama beliau.
Awal kami menikah, saya pernah jumpa Cu Wit beberapa kali. Interaksi kami hanya sekedarnya. Karena saya masih canggung menjadi menantu baru. Keluarga suami saya sangat banyak. Membuat saya sering bingung dan sulit mengingat nama nama dan wajah semua keluarga.
Tapi ada satu hal yang khas di tengah kesulitan itu. Wajah mereka mirip-mirip, yang lelaki tampan-tampan dan yang perempuan cantik-cantik. Umumnya kehidupan mereka juga mapan dan berkecukupan.
Saya gadis kampung yang pemalu, hanya bisa tersenyum saat berjumpa mereka. Tidak ada banyak kata yang bisa terucap. Sebab saya juga bingung, topik apa yang enak untuk dibahas.
Suatu saat Fathan, anak pertama kami sakit. Waktu itu dia masih bayi, usia 11 bulan. Fathan demam tinggi, batuk dan sesak nafas. Semula kami bawa Fathan ke M. Natsir dan rawat inap di sana selama 3 hari. Tapi belum ada angsuran. Kami mengajukan pulang paksa. Kemudian memindahkan Fathan ke rumah sakit lain.
Kebetulan rumah sakit tersebut berada tepat di belakang rumah Cu Wit. Suami saya menelpon Cu Wit memberi kabar kondisi Fathan. Tak lama setelah itu Cu Wit datang dengan masih memakai mukenah setelah shalat Maghrib berjamaah di Mesjid.
Cu Wit mengajak saya mengobrol, mengajari saya bagaimana mengatasi anak rewel. Beliau menggendong Fathan. Beliau juga membuatkan makanan bayi untuk Fathan sampai beberapa kali. Beliau pun sabar menyuapi Fathan makan. Hingga kondisi Fathan membaik, dan kami bisa membawanya pulang.
Sejak saat itu, hati saya mulai memandang Cu Wit dengan rasa berbeda. Saya rasa, saya mulai jatuh hati pada Cu Wit. Kami menjadi sering berinteraksi, hingga saling berteman di dunia maya.
Saya menjadikan Cu Wit sebagai panutan dalam mendidik anak-anak. Terkadang ada masanya Cu Wit berkata keras dan menusuk hati saya. Tapi entah kenapa saya senang-senang saja menerima hal itu. Menjadikannya sebagai lecutan agar diri saya dapat tumbuh lebih baik.
Ternyata tanpa saya sadari anak-anak kami pun merasakan debaran yang sama. Mereka jatuh hati kepada Cu Wit, jauh lebih dalam dari apa yang saya rasakan. Bagi mereka, Cu Wit adalah Oma kedua.
Setiap sebentar mereka rindu pada Cu Wit. Membicarakan kebaikan-kebaikan Cu Wit, wajah Cu Wit, kucing-kucing Cu Wit, rumah Cu Wit, mainan di rumah Cu Wit, kisah-kisah mereka saat bermain bersama Cu Wit. Mereka begitu ter Cu Wit - Cu Wit.
Saat ini usia Cu Wit sudah mulai menua. Seiiring dengan usia kami, para keponakannya yang juga sudah mulai menua pula. Anak-anak Cu Wit sudah mandiri dan tinggal di pulau Jawa. Cu Wit pun sepi sendiri di Solok.
Meskipun sangat ramai keluarga yang lain, tapi tentu saja tak akan pernah sama kebahagiaan nya ketika berkumpul dengan putra putri dan cucu cucu kandung sendiri.
Ah, saya jadi sedih..
Kami selalu berharap kebahagiaan berlimpah untuk kehidupan Cu Wit...
Suatu hari, anak ketiga kami (9th) mendesak saya untuk berkunjung ke rumah Cu Wit. Sejak pagi ia sudah bersiap dengan pakaian yang cantik. Saya membujuknya agar bersabar dulu. Karena saya masih ada keperluan hingga sore hari. Setelah shalat Ashar akhirnya kami berangkat dengan sepeda motor. Mereka, adik-adik Fathan begitu riang gembira. Seolah-olah mereka akan saya bawa ke taman bermain.
Sesampainya di rumah Cu Wit, kami disambut oleh gerombolan guguk penjaga rumah. Mereka menyalak-nyalak keras, membuat anak-anak ketakutan.
"Cu Wiiit.. Cu Wiiit.. Mau ke tempat Cu Wiiit.. " Rengek anak ketiga saya.
Saya segera menelpon Cu Wit memberi kabar kami sudah di depan rumah. Tak lama setelah itu, pintu pagar bergeser. Salah satu karyawan toko Cu Wit mempersilahkan kami masuk. Rasanya sudah sangat lama saya tidak bersilaturahmi ke rumah Cu Wit. Ada rindu yang mendesak.
Cu Wit masih di dalam toko. Sebentar lagi pukul 18.00, waktunya tutup toko. Kami menunggu Cu Wit di dalam rumahnya yang luas, tenang dan nyaman. Anak-anak saya sibuk naik ayunan, naik alat olahraga, berlari-lari, memanggil-manggil kucing Cu Wit.
"Bibiii.. Bibiiii.. Mana sih si Bibi," Seru anak ketiga saya.
Saya tertawa terkekeh memandangi kehebohan mereka. Mereka terlalu bahagia. Tampak sangat lucu dan menggemaskan.
Tak lama setelah itu Cu Wit datang. Toko sudah Tutup. Toko Cuwit bersatu dengan rumah. Toko di bagian depan dan rumah di bagian belakang. Kedua bahagiannya cukup luas. Allahummabaarik.
Anak-anak menyambut Cu Wit penuh rindu. Saya pun tak mau ketinggalan ikut bersalaman dan memeluk Cu Wit.
Kami bertukar cerita sambil memandangi anak-anak bermain. Tak lama setelah itu Abinya anak-anak tiba. Beliau menyusul kami setelah toko tempat bekerjanya tutup.
Adzan Maghrib berkumandang. Cu Wit segera berbuka. Ternyata beliau puasa sunnah. Sementara saya tidak. Malu rasanya.
Kami membentangkan sajadah untuk shalat berjama'ah. Sementara si Bungsu Ibrohim berangkat ke Mesjid bersama Abinya.
"Or, kita makan di luar yuk," Ucap Cu Wit setelah suami saya kembali dari mesjid.
Suami saya tersenyum lebar mendengar ajakan Cu Wit. Sementara anak-anak bersorak riang. Bagi mereka itu maknanya, Cu Wit mengajak mereka jalan-jalan.
"Umi Umi!! Kata Cu Wit kita makan malam di luar. Berangkat nya sama mobil Cu Wit. Kita semuanya naik mobil," Si Kakak berceloteh riang di telinga saya.
"Oya??" Tanya saya pura-pura terkejut. Padahal saya mendengar obrolan mereka.
"Iya Mi.. Kita semuanya naik mobil, motor Abi tinggal dulu di sini!!" Si Kakak bicara setengah berteriak. "Ayok Mi, cepat! Cepat!"
"Iya iya.. Umi sudah siap," Saya bergegas menyudahi memasang kaos kaki.
Kedatangan kami terlalu mendadak, sehingga Cu Wit tidak sempat menyiapkan apapun. Saya mengerti, Cu Wit hendak menjamu kami. Tapi badannya sudah letih setelah bekerja. Ditambah tubuhnya lemas setelah seharian puasa.
Hati saya jadi tak enak. Sebab serasa telah merepotkan Cu Wit. Mestinya Saya membawakan oleh-oleh makanan untuk beliau berbuka. Dan anak-anak, saya suapi dulu sampai kenyang sebelum berangkat ke sini.
Dengan segala kehebohan dan bahagianya mereka naik mobil Cu Wit. Seolah-olah mereka tidak pernah naik mobil sebelumnya. Kami mampir di Este Corner dan makan lahap di sana. Masakan Tri Lestari, teman les bahasa Inggris semasa SMP dulu memang enak dan bikin kangen.
Setelah itu, Cu Wit memilih jalan pulang memutar, dengan jalur yang berbeda saat kami berangkat tadi. Jadilah malam itu kami keliling kota Solok.
Sejak awal berangkat hingga kami kembali pulang ke rumah Cu Wit. Beliau tak berhenti mengajak anak-anak bercerita sambil memperkenalkan gedung-gedung yang kami lalui.
"Ini namanya Sawah Solok. Di sini ada kolak yang enak. Nanti kita makan di sini, ya." Kata Cu Wit.
"Horeee!" Sorak anak-anak.
"Ini namanya Rumah Sakit Tentara,"
"Oo.. Rumah sakit tentara.." Celetuk Kakak.
"Ini namanya Lapangan Merdeka," Ucap Cu Wit lagi.
"Waaah.. Lapangan merdeka." Seru si Kakak dan Ibrohim.
"Kita dulu main di sini kan, Mi?!" Kata Si Uni.
"Iya, ya Ni.. Sama Uda juga, kan?"
Uni mengangguk sumringah.
"Ini namanya kantor PU," Ucap Cu Wit lagi.
"Oo kantor PU! " Sambut si Kakak antusias.
Cu Wit terus menyetir melalui jalan yang membawa kami ke tempat yang jauh dari lokasi rumah Cu Wit. Sambil terus memperkenalkan semua tempat yang kami lalui. Disambut celetukan riang anak-anak. Seolah-olah mereka tidak pernah melalui tempat itu sama sekali.
Saya tak henti tersenyum dan terkekeh menyaksikan semua pemandangan manis itu. Di dalam hati saya tak henti bertanya, Nak.. Kalian sedang apa? Apakah hilang ingatan atau bagaimana??
Ketika mobil Cu Wit melalui jalan yang biasa kami lewat saat pulang ke rumah, mereka mulai resah.
"Kita pulang??! Jangan pulang Abi! Jangan pulang Umi! Masih mau main di rumah Cu Wit!"
"Mereka cemas, Cu Wit. Ini jalan pulang ke rumah." Seru saya dari belakang Cu Wit.
"Oo.. Kita pulang ke rumah Cu Wit," Jawab Cu Wit menenangkan.
"Yeeee..!!!" Seru anak-anak serempak.
Yaa Allah Naak. Kalian norak, hehe.
Cu Wit membawa anak-anak berhenti di pinggir Taman Kota. Membelikan Si Bungsu dan Si Kakak balon boneka satu seorang. Setelahnya kami pulang ke rumah Cu Wit. Shalat Isya dan mengobrol hingga pukul 22.00 malam.
Cu Wit sudah terlihat lelah. Kami pamit pulang dan memaksa anak-anak untuk menutup permainan mereka di rumah Cu Wit. Sebab jam bertamu telah usai.
Itulah suatu malam yang teramat indah kami habiskan bersama Cu Wit. Rasa cinta di hati anak-anak pun semakin besar. Bukan tentang kemewahan dan harta benda Cu Wit. Tetapi tentang kasih sayang beliau yang menembus hingga ke paling hati terdalam anak-anak kami.
Terimakasih Cu Wit... Untuk semua cinta dan kasih sayangmu yang hangat dan tulus🌷🌷
Solok, 18 Januari 2025
Komentar
Posting Komentar