Postingan

Kami Takut Ata

Gambar
*Fiksi "Guk guk guk! Rrrrrrr! " Seekor anjing hitam menyalak keras, berusaha mencakar jendela kawat di rumah Titi dan Titan. Dua kelinci kecil itu cemas dan bersembunyi di dalam biliknya. Mereka memejamkan mata dan menutupi telinganya rapat-rapat. Tapi  suara anjing itu menjadi-jadi.  "Kemana orang-orang Titan? Kenapa tidak ada yang menolong kita?" Tanya Titi mulai menangis.  "Ssst.. Jangan bersuara. Dia tidak akan bisa menyentuh kita" Bisik Titan. Suaranya gemetar tak kalah cemas.  "Hus hus. Sana! Jangan ganggu." Terdengar suara Ata dari kejauhan. Ata melempar tulang sangat jauh. Hingga anjing itu pun tak terlihat lagi.  Prang! Dukkh! Suara pintu rumah kelinci dihempas. Diikuti hentakan baskom penuh rumput di lantai. Tampaknya Ata sedang kesal.  "Aku lagi aku lagi! Sekarang harusnya Zaza yang bertugas! Dia enak enakan istirahat!" Ata mejulurkan kakinya dan bersandar di dinding. Ia terus saja mengomel.  (sumber p...

Suatu Malam Bersama Cu Wit

Beliau adalah tantenya suami saya. Adik perempuan mendiang ayah mertua yang paling kecil. Makanya ada embel-embel Uncu di depan nama beliau. Awal kami menikah, saya pernah jumpa Cu Wit beberapa kali. Interaksi kami hanya sekedarnya. Karena saya masih canggung menjadi menantu baru. Keluarga suami saya sangat banyak. Membuat saya sering bingung dan sulit mengingat nama nama dan wajah semua keluarga. Tapi ada satu hal yang khas di tengah kesulitan itu. Wajah mereka mirip-mirip, yang lelaki tampan-tampan dan yang perempuan cantik-cantik. Umumnya kehidupan mereka juga mapan dan berkecukupan. Saya gadis kampung yang pemalu, hanya bisa tersenyum saat berjumpa mereka. Tidak ada banyak kata yang bisa terucap. Sebab saya juga bingung, topik apa yang enak untuk dibahas. Suatu saat Fathan, anak pertama kami sakit. Waktu itu dia masih bayi, usia 11 bulan. Fathan demam tinggi, batuk dan sesak nafas. Semula kami bawa Fathan ke M. Natsir dan rawat inap di sana selama 3 hari. Tapi belum ada angsur...